Minggu, 26 April 2020

PSIKOLOGI PENERBANGAN: SUATU PENGENALAN


Widura Imam Mustopo

Pendahuluan
              
               Psikologi secara umum dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang perilaku dan proses mental manusia, meskipun perilaku hewan juga dipelajari, terutama sebagai sarana untuk lebih memahami perilaku manusia. Secara luas psikologi mencakup banyak bidang kekhususan. American Psychological Association (APA), suatu organisasi psikolog profesional di Amerika Serikat, memiliki daftar lebih dari 50 divisi dan masing-masing divisi mewakili aspek studi psikologi yang saling terpisah. Sedangkan di Indonesia Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) setidaknya terdaftar 20 Asosiasi/Ikatan Minat Bidang Psikologi yang beragam berkaitan dengan berbagai aspek psikologi, seperti klinis, kesehatan, industri dan organisasi, pendidikan, sekolah, forensik, militer, penerbangan dan lainnya. Semua ini berkaitan dengan pemahaman bagaimana perilaku manusia dan proses mental mempengaruhi atau dipengaruhi oleh masalah domain khusus mereka. 
             Tulisan ini mengulas apa yang dimaksud dengan psikologi penerbangan. Pembaca dikenalkan pada hal-hal yang termasuk dalam bahasan psikologi penerbangan, dan berbagai hal penting untuk membedakan psikologi penerbangan dan dunia psikologi lainnya.  Tetapi sebelumnya, perlu disingkirkan dulu citra populer tentang psikologi yang berhubungan dengan seseorang yang mengungkapkan keluhan atau masalahnya, ataupun seseorang yang berbaring di sofa menceritakan masa kecilnya dan riwayat perkembangan emosinya.  Pandangan tentang psikologi yang populer seperti tersebut itu lebih merupakan bidang yang berkaitan dengan psikologi klinis. Meskipun psikologi klinis merupakan komponen utama di bidang psikologi yang lebih luas, namun dapat dikatakan sedikit relevansinya dengan psikologi penerbangan. Itu tidak berarti bahwa pilot dan orang-orang yang terlibat di dunia penerbangan sama sekali tidak berhubungan dengan masalah mental atau apa yang dialami oleh umat manusia pada umumnya. Hanya saja di sini tidak membahas aspek-aspek psikologi manusia yang biasanya ditangani di bidang klinis melainkan mengulas aspek-aspek psikologi yang dapat mempengaruhi kinerja manusia dalam lingkungan penerbangan. Lebih menekankan pada semua aspek fungsi mental pilot, teknisi pemelihara, pengontrol lalu lintas udara, dan awak pendukung lainnya yang secara tak terelakkan dapat memengaruhi perilaku menjadi lebih baik atau lebih buruk.
          Pembahasan akan memilah psikologi penerbangan dari fokus psikoterapi psikologi klinis tradisional. Psikologi penerbangan akan lebih memusatkan perhatian pada perilaku maladaptif yang harus dibuktikan dengan perilaku yang tampil seperti minum berlebihan atau mengungkap gagasan yang membingungkan terkait dengan gangguan kepribadian, tetapi itu dilakukan untuk tujuan memahami dan memprediksi efek dari gangguan dan perilaku tersebut pada kegiatan yang terkait penerbangan, bukan untuk tujuan intervensi bentuk psikoterapi. Pendekatan yang digunakan dalam memahami psikologi penerbangan di sini jauh lebih mendasar. Fokus perhatian di sini tidak hanya terhadap perilaku (apa yang dilakukan orang) dan ide (apa yang dipikirkan orang) dari orang-orang dengan berbagai gangguan mental. Tetapi juga, perhatian terhadap bagaimana orang berperilaku pada umumnya. Psikologi pada tingkat paling inklusif adalah studi tentang perilaku orang pada umumnya. Psikologi di sini mempertanyakan mengapa dalam kondisi tertentu orang berperilaku dengan cara tertentu dan dalam kondisi berbeda mereka berperilaku dengan cara yang berbeda. Bagaimana peristiwa sebelumnya atau pengalaman, struktur kognitif, keterampilan, pengetahuan, kemampuan, preferensi, sikap, persepsi, dan sejumlah konstrak psikologi lainnya dapat mempengaruhi perilaku? Psikologi ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang hal itu, dan berupaya mendapatkan mekanisme untuk menemukan jawaban. Ini semua memungkinkan pembaca dapat memahami dan memprediksi perilaku manusia.
       Dalam hal ini, ada kontribusi dari beberapa sub-disiplin bidang psikologi terhadap psikologi penerbangan. Ini termasuk psikofisiologis, psikologi kerekayasaan, dan disiplin lainnya yang terkait erat dengan faktor manusia, seperti; psikologi personil, psikologi kognitif, dan psikologi organisasi. Meskipun psikologi penerbangan sangat bergantung pada disiplin ilmu psikologi lainnya, namun sebenarnya disiplin ilmu lainnya juga sangat berhutang budi pada psikologi penerbangan karena mendukung kemajuan psikologi, khususnya di bidang psikologi terapan. Ini terutama disebabkan oleh ikatan historis psikologi penerbangan dengan penerbangan militer. Karena sejumlah alasan, penerbangan, dan pilot khususnya, selalu menjadi masalah yang sangat besar bagi militer. Pelatihan pilot militer adalah proses yang mahal dan panjang, sehingga perhatian besar telah diberikan, sejak Perang Dunia I, untuk meningkatkan kualitas seleksi individu-individu calon pilot ini untuk mengurangi kegagalan dalam pelatihan, asal-usul personel dan psikologi pelatihan. Demikian pula, biaya pesawat udara yang besar dan kerugiannya karena kecelakaan berkontribusi pada pengembangan faktor manusia dan psikologi kerekayasaan. Interaksi manusia dengan sistem otomasi, sekarang menjadi perhatian besar di era komputer, dan telah menjadi problem studi selama beberapa dekade dalam penerbangan, mulai dari pengenalan sistem penerbangan dan dalam beberapa tahun terakhir kokpit kaca canggih. Banyak penelitian yang dikembangkan dalam manajemen operasional penerbangan untuk sistem canggih ini sama-sama sesuai dengan tampilan dan kontrol canggih yang juga akan segera muncul di mobil dan truk.


Pengertian, Ruang Lingkup Psikologi Penerbangan

Dari pengertiannya yang umum, psikologi penerbangan dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia di dunia penerbangan.  Psikologi penerbangan ingin menelaah aspek-aspek perilaku manusia yang terkait dengan lingkungan penerbangan.  Secara lebih spesifik beberapa ahli psikologi penerbangan mendefinisikan sesuai dengan latar belakang dan tujuan masing-masing ahli tersebut. Psikologi penerbangan didefinisikan sebagai “Ilmu terapan yang mempelajari perilaku manusia dalam upaya untuk menyesuaikan diri  dengan lingkungan penerbangan" (Bond, et.al., 1962).  Bond dan kawan-kawan mencoba mendefinisikan psikologi penerbangan sebagai ilmu terapan, artinya psikologi penerbangan dikembangkan sebagai ilmu yang berorientasi pada pemecahan permasalahan di lapangan dan atau operasional, dalam hal ini operasional penerbangan.  Roscoe (dalam Roscoe & Williams, 1980) mendefinisikan psikologi penerbangan sebagai ilmu tentang perilaku manusia dalam pengoperasian sistem penerbangan". Martinussen & Hunter (2018) mendefinisikan sebagai studi tentang individu yang terlibat dalam kegiatan yang terkait penerbangan. Dari definisi di atas, secara ringkas psikologi penerbangan merupakan ilmu terapan yang pokok studinya adalah perilaku manusia dalam aktivitasnya di dunia penerbangan. 
Para ahli mengungkapkan bahwa psikologi penerbangan pada dasarnya mempelajari perilaku manusia.  Perilaku di sini dapat diartikan luas mencakup tindakan manusia, proses kognitif, dan emosional, termasuk di dalamnya hal-hal yang mempengaruhinya seperti perbedaan lintas budaya, antar dan intra-individu.  Dan perilaku manusia tersebut secara khusus dipelajari dalam lingkungan sistem yang kompleks di penerbangan. 
Sebagai ilmu terapan, psikologi penerbangan mengembangkan dan mengaplikasikan metode-metode dan teknik-teknik psikologi ilmiah berbasis empiris.  Metode dan teknik-teknik psikologi tersebut terutama yang terkait dengan bidang psikologi terapan, seperti psikologi kerja, psikologi organisasi, psikologi personel, psikologi sosial, psikologi pendidikan, diagnostik psikologi, psikologi kesehatan, dan psikologi klinis.
            Memperhatikan ruang lingkup studi psikologi penerbangan tersebut di atas, maka psikolog penerbangan bekerja dan bertanggung jawab atas bidang psikologi dalam area kerja: Seleksi, kualifikasi, dan pelatihan ; optimalisasi kondisi kerja dan pengembangan sistem ; pengurangan risiko keselamatan ; investigasi kecelakaan dan insiden ; intervensi krisis dan intervensi psikologis klinis ; manajemen beban kerja ; kualitas kerja tim dan sumber daya tim.


Tujuan Psikologi Penerbangan

Tujuan dari psikologi penerbangan adalah untuk memahami dan memprediksi perilaku individu dalam lingkungan penerbangan. Mampu, walaupun tidak sempurna, untuk memprediksi perilaku mempunyai manfaat besar bagi dunia penerbangan. Memprediksi secara akurat bagaimana pilot akan bereaksi (berperilaku) dalam membaca instrumen memungkinkan kita untuk mengurangi kesalahan pilot, yaitu dengan merancang instrumen yang lebih mudah ditafsirkan dan tidak mengarah pada potensi reaksi yang salah. Memprediksi bagaimana perilaku teknisi pemeliharaan ketika diberi serangkaian instruksi baru dapat menyebabkan peningkatan produktivitas melalui pengurangan waktu yang diperlukan untuk melakukan tindakan pemeliharaan. Memprediksi bagaimana lama istirahat akan mempengaruhi pengontrol lalu lintas udara ketika dihadapkan dengan konflik lalu lintas yang dapat meningkatkan keselamatan.  Memprediksi apakah restrukturisasi perusahaan pada budaya keselamatan suatu organisasi dapat mengidentifikasi area di mana konflik mungkin terjadi dan area di mana keselamatan cenderung menurun.
Dari tujuan umum untuk memahami dan memprediksi perilaku individu dalam lingkungan penerbangan, dapat diidentifikasi tiga tujuan yang lebih spesifik. Pertama, untuk mengurangi kesalahan oleh manusia dalam aktivitas penerbangan; kedua, untuk meningkatkan produktivitas; dan ketiga, untuk meningkatkan kenyamanan pekerja dan penumpangnya. Untuk mencapai tujuan-tujuan ini diperlukan kegiatan yang terkoordinasi dari banyak kelompok orang yang terlibat di penerbangan. Ini termasuk pilot, teknisi-pemelihara, operator kontrol lalu lintas udara, manajer organisasi penerbangan, pengangkut bagasi, supir truk bahan bakar, katering, ahli meteorologi, dispatcher, dan petugas kabin. Semua kelompok kerja ini, ditambah beberapa kelompok kerja pendukung lainnya, memiliki peran dalam mencapai ketiga tujuan psikologi penerbangan yaitu: keselamatan, efisiensi, dan kenyamanan. Namun, karena mengulas semua kelompok itu menjadi sangat luas maka pembahasan umumnya difokuskan pada pilot.  Alasan lain mengapa fokus pada pilot karena sebagian besar penelitian psikologi penerbangan dilakukan pada pilot. Hal ini perlahan berubah, dan belakangan ini lebih banyak penelitian yang telah dilaksanakan atau sedang dilakukan ditujukan pada pengontrol lalu lintas udara, anggota kru, dan kelompok pekerjaan lain yang terlibat dalam penerbangan.

Kepustakaan:

Bond, N.A., Bryan, G.L., (1962).  Aviation Psychology.  L.A. :   Aviation and Missile Safety Division.Goeters, K.M.(Ed), Aviation Psychology :  A Science and a Profession.  Vermont: Ashgate Publishing Co. 
Martinussen, M., and Hunter, D.R., (2018). Aviation Psychology and Human Factors (Second Edition). NW, Suite 300: Taylor & Francis Group, LLC., CRC Press.
Roscoe, S.N., and Williams, A.C. (1980). Aviation Psychology. NY: John Wiley & Sons,  
       Incorporated.
Tsang, P.S., and Vidulich, M.A., (2003). Introduction to Aviation Psychology. In, Tsang, P.S., and Vidulich, M.A. (Ed’s), Principle and Practice of Aviation Psychology Mahwah, New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Inc., Publishers.
Widura IM., (1986). Psikologi Dalam Lingkungan Penerbangan. Dalam : Kumpulan Karya Tulis Alumni Fakultas Psikologi Unpad, Dalam Rangka Lustrum V & Hari Sarjana Fakultas Psikologi Unpad.  Bandung :  Fakultas Psikologi Unpad. 




Minggu, 05 Januari 2020


REAKSI PATOLOGIS PILOT MENGHADAPI KEJUTAN OTOMASI

Widura Imam Mustopo

Diadaptasi dari tulisan Wayne Martin, Patrick Murray, and Paul Bates, dalam artikel tanggal 2 Mei 2013 tentang “Pathological reactions: Researchers explore pilot impairment from severe startle, freezing and denial during unexpected critical events”. Flight Safety Foundation. Alexandria, Virginia 22314. (diunduh dari https://t.co/ 4JmE7b7V1T. 27 November, 2019).

Dalam beberapa dekade belakangan ini, dunia telah memperoleh manfaat yang luas dengan perkembangan otomasi dalam kontrol pesawat udara yang meningkatkan keselamatan penerbangan komersial. Namun demikian, diakui pula bahwa pada beberapa kecelakaan besar beberapa tahun terakhir, ditemukan pilot bisa gagal bereaksi ketika dikejutkan oleh situasi kritis yang tak terduga. Dalam beberapa kasus, pilot bereaksi secara tidak efektif atau tidak akurat, atau bahkan gagal bereaksi pada waktu yang tepat. Kejutan tak terduga itu sendiri merupakan kondisi yang dapat terjadi pada sistem otomasi. Beberapa faktor potensial yang dapat menimbulkan kejutan dalam sistem otomasi antara lain, karena kompleksitas sistem otomasi, di mana sistem tersebut merupakan penggabungan dari berbagai sistem lainnya, sehingga bisa terjadi informasi umpan balik dalam sistem berlangsung tidak memadai.
Kejutan otomasi biasanya terjadi pada salah satu dari dua kejadian di kokpit pesawat berteknologi canggih.  Pertama, bila ada peristiwa yang tidak terduga atau situasi berubah tiba-tiba tanpa instruksi/perintah, dan perubahan sistem terebut baik sudah dikenal atau tidak dikenal oleh pilot. Tipe kedua, kejutan otomasi yang terjadi sebagai hasil tak terduga dari perubahan yang diperintahkan, seperti dalam kasus autopilot gagal menangkap informasi ketinggian pesawat ketika pilot memperoleh input (dan mengharapkan) ke level yang telah dipilih sebelumnya. Dalam kedua kasus tersebut, pilot mengidentifikasi adanya perbedaan (dengan yang diharapkan), ia menjadi bingung sesaat, dan seringkali, tidak memiliki ide langsung tentang tindakan apa yang harus diambil untuk memperbaiki situasi. Kebingungan dan ketidakpastian ini bukan disebabkan kurang pemahaman atau kesadaran pilot tentang keadaan pesawat, tetapi kurangnya kesadaran tentang sistem otomasi.
Dari penelitian eksperimen di simulator penerbangan, analisis laporan tentang accident (kecelakaan penerbangan) dan serious incident, serta tinjauan literatur neuroscience dan psikologi menunjukkan bahwa reaksi patologis diinduksi oleh severe startle (kejutan hebat) yang mengakibatkan stres akut dan selanjutnya dapat menimbulkan reaksi membeku (freezing) atau menyangkal (denial) (Martin, et.al., 2013). Dua jenis reaksi yang memberikan konsekuensi individu tidak bertindak apa-apa ketika seharusnya ia melakukan tindakan tertentu untuk mengatasi situasi.  Reaksi ini kerap terjadi dan sering tidak disadari. Beberapa ahli berpendapat bahwa severe startle memberikan dampak yang kuat dan serius bagi orang yang mengalaminya.
Perilaku dalam bentuk tidak melakukan tindakan apa-apa semacam itu jelas berpotensi memberikan efek signifikan pada keselamatan penerbangan.  Kondisi tersebut dapat mengakibatkan kondisi pesawat tidak seperti yang diinginkan, dan akibatnya terjadi serious incident atau accident.  Untuk mengatasinya, diperlukan penelitian lebih lanjut, terutama untuk mengembangkan intervensi pelatihan yang sesuai di masa mendatang.  Intervensi seperti itu dapat memvalidasi asumsi bahwa dengan memaparkan pilot pada situasi kritis yang tidak biasa saat pelatihan di simulator, akan membuat pilot mampu mengembangkan strategi spesifik dan generik untuk menghadapinya.  Idealnya, paparan seperti itu juga akan menimbulkan self-efficacy yang lebih besar, dan pada gilirannya akan membuat pilot secara signifikan lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami reaksi stres akut ketika mengalami severe startle pada situasi nyata (Martin, et.al., 2013).
Pada dasarnya manusia sangat rentan terhadap reaksi stres akut, yang terjadi ketika menghadapi kejadian yang tidak terduga, mengancam, dan/atau kritis, di mana beberapa orang gagal mengatasinya dengan baik. Reaksi stres fisiologis telah terbukti memiliki dampak yang kuat pada working memory dan fungsi kognitif lainnya. Pola berpikir yang seharusnya konstruktif seringkali beralih ke tindakan yang tidak relevan, dan konsekuensinya malah menambah kecemasan. Reaksi stres akut, yang terkait dengan persepsi terhadap ancaman, dapat menciptakan situasi di mana pada beberapa orang merasa kewalahan dan/atau mengandalkan mekanisme coping seperti freezing atau denial.

Lumpuh karena Ketakutan
Reaksi stres akut seperti telah disinggung sebelumnya, umumnya sering terjadi ketika seseorang menghadapi keadaan darurat yang mengancam jiwa. Hal ini bisa diamati pada perilaku manusia ketika menghadapi bencana yang terjadi di suatu tempat. Gempa bumi, banjir, kebakaran, tenggelamnya kapal, bencana anjungan minyak yang tenggelam atau tumburan kereta api dapat menimbulkan perilaku yang beraneka ragam. Beberapa penelitian melalui saksi mata dan wawancara terhadap korban dan para penyintas (survivor) melaporkan bahwa mereka melihat orang-orang yang tidak selamat tersebut mengalami kelumpuhan karena ketakutan dan tidak mampu bertindak apa-apa, bahkan ketika mereka seharusnya melakukan tindakan tertentu yang sebetulnya bila dilakukan dapat membantu mereka bertahan hidup. Dari perspektif keselamatan penerbangan, tidak bertindak apa-apa (inaction) dalam menghadapi ancaman merupakan kekhawatiran tersendiri. Observasi terhadap perilaku penumpang pesawat selama evakuasi kecelakaan pesawat, ternyata, polanya sama. Dalam suatu uji coba simulasi evakuasi penumpang pesawat yang mengalami kecelakaan, peneliti menemukan perilaku lamban dan pasif ditampilkan oleh sejumlah penumpang. (Muir, et.al., 1989 & Muir, et.al., 1996) Suatu studi menunjukkan bahwa 10 hingga 15 persen orang biasanya menunjukkan perilaku patologis seperti itu ketika dihadapkan pada situasi yang mengancam jiwanya (Leach, 2004 & U.K. Air Accidents Investigation Branch, 1988). 
Reaksi lamban atau tidak bertindak apa-apa ini, merupakan reaksi stres akut terhadap stimulus yang sangat mengancam, yang disebabkan oleh mekanisme freezing atau denial. Suatu eksperimen oleh peneliti lain menunjukkan bahwa gangguan kognitif dan dexterity (kecekatan tangan/kaki) umumnya dapat bertahan hingga 30 detik setelah situasi kejut terjadi (Thackray & Touchstone, 1983; Vlasek, 1969 ; Woodhead, 1969 & Woodhead, 1969). Reaksi-reaksi ini dapat dianggap tipikal di sebagian kecil populasi orang yang menghadapi ancaman.  Sebagian besar orang berharap bahwa pilot profesional, yang umumnya terlatih dengan baik, dan berpengalaman, kompeten serta memiliki kemampuan tanpa cela akan mampu mengatasi situai darurat yang kritis untuk menghindari bencana. Sayangnya, hal ini tidak selalu sesuai dengan harapan dan kadang hal ini bukan karena masalah kompetensi.
Kehandalan pesawat yang sangat canggih telah menjadi keniscayaan, namun temuan resmi dari penyelidikan accident pesawat atau serious incident lebih sering diwarnai oleh kegagalan manusiawi yang kebetulan melibatkan pilot. Dalam beberapa kecelakaan fatal yang relatif baru, temuan menunjukkan bahwa crew atau pilot telah salah menangani situasi kritis dan gagal me-recover pesawat. Biasanya, hal tersebut karena ada keterlambatan dalam bereaksi/bertindak, atau tindakan yang diambil salah, yang memperburuk masalah. Meskipun pilot aktif secara rutin berlatih menghadapi kegagalan mesin, kebakaran mesin, depresurisasi dan malfungsi sistem utama, serta jenis-jenis peristiwa kritis yang terdapat dalam data kecelakaan (termasuk kecelakaan baru-baru ini) dianggap sebagai peristiwa yang sangat tidak biasa. Pelatihan-pelatihan di simulator telah dilaksanakan dengan melibatkan situasi yang tidak terduga di mana pilot dibuat menjadi sangat terkejut dan/atau kewalahan. Namun, respon terhadap severe startle - atau reaksi stres akut berupa freezing dan denial - tetap terjadi dan kadang diperburuk oleh ekspektasi yang dikondisikan bahwa mereka dalam bertindak tidak mungkin salah (Martin, et.al., 2013). 


Proses Reaksi
Inti dari reaksi stres akut terletak pada penilaian (appraisal) seseorang terhadap stimulus tertentu yang mengancam. Di sini appraisal diartikan sebagai "suatu proses evaluatif yang menentukan mengapa dan sejauh mana suatu transaksi atau serangkaian transaksi tertentu antara orang dan lingkungan itu menimbilkan stres" (Leach, 2004). Para ahli berpendapat bahwa dalam appraisal terlibat dua proses yang berbeda, yaitu; penilaian primer, yang menentukan tingkat ancaman, dan penilaian sekunder, yang menentukan cara penanganan yang tepat. Proses ini berlangsung sangat cepat dan biasanya mendahului proses berpikir secara sadar di korteks otak. Fakta ini jelas menguntungkan ketika situasi kritis memerlukan tindakan segera, tetapi di sisi lain fakta tersebut juga dapat menyebabkan reaksi stres akut bersifat patologis yang tidak memberikan jaminan efektivitas tindakan dalam mengatasi situasi. 
Ketika situasi dinilai sebagai ancaman, manusia akan bereaksi secara tak sadar (involuntarily) dengan menerapkan mekanisme homeostatis emosional (yang dapat menghilangkan stres), atau mekanisme pertahanan di tingkat sadar dengan fokus pada upaya memperbaiki masalah. Tindakan di tingkat sadar berupa upaya memperbaiki masalah adalah metode atau cara yang tepat, yang diekpaktasi dilakukan oleh sebagian besar pilot di sebagian besar situasi. Namun, jika tidak ada perbaikan segera, atau situasinya dinilai berlebihan, maka ada kemungkinan muncul beberapa bentuk mekanisme coping yang bersifat emosional. Dan perlu diketahui, bahwa coping emosional sebagian besar bersifat patologis dan dapat berupa perilaku menghindar (escape), menyangkal (denial), menipu diri (self-deception), atau distorsi realitas (Lazarus &  Folkman, 1984 ; Monat & Lazarus, 1991). Mekanisme coping jenis ini dapat memberikan efek yang buruk pada information processing, problem solving, dan decision making (Martin, et.al., 2013).  Dalam konteks situasi kritis di penerbangan hal ini akan sangat bermasalah. 

Startle atau Kejutan
Refleks kejut (startle reflex) adalah respons manusiawi yang normal dan universal ketika orang menghadapi stimulus yang tidak terduga atau mengejutkan. Ketika seseorang menilai suatu stimulus sebagai ancaman, aktivasi sistem saraf simpatik memicu perubahan yang luas dan cepat dalam tubuh. Gugahan ini, yang terkait dengan reaksi stres akut, umumnya dikenal sebagai respon fight or flight (melawan atau lari) dan telah terbukti berpengaruh secara signifikan pada proses kognitif dan psikomotorik. Refleks kejut memunculkan pola gerakan melawan (menjauhi stimulus) dan menyelaraskan perhatian ke sumber stimulus. Proses ini sangat cepat, dengan tanda-tanda pertama reaksi terjadi hanya dalam 14 milidetik (ms) dalam beberapa tes pada manusia (Simons, 1996. ; Yeomans &  Frankland, 1996). Mengingat bahwa proses kognitif terhadap rangsangan baru membutuhkan lebih dari 500 ms (Asli & Flaten, 2012), maka reaksi reflektif jelas merupakan proses bawaan bersifat instinktif dari manusia untuk menghindari bahaya.
Area amygdala di otak, yang terkait erat dengan memori emosional rasa takut, tampaknya menjadi lokasi penilaian awal terhadap ancaman. Proyeksi dari amygdala kemudian memulai refleks kejut dan, jika ancaman terus berlanjut, reaksi kejut akan menguat. Pada dasarnya, ini masih merupakan respon fight or flight, suatu proses yang sama terjadi pada reaksi stres akut. Perubahan cepat dalam sistem tubuh dihasilkan dari gugahan sistem saraf simpatik. Perubahan tersebut diindikasikan dengan meningkatnya denyut jantung dan pernafasan, mengarahkan lebih banyak aliran darah ke organ vital, dan memasukkan hormon seperti adrenalin (epinefrin) ke dalam aliran darah. Perubahan karakteristik lainnya adalah berkedip dan kontraksi otot lengan dan kaki.
Penelitian lainnya, menunjukkan bahwa gangguan kognitif dan penurunan dexterity atau kecekatan dapat bertahan hingga 30 detik selama reaksi terhadap severe startle (Vlasek, 1969 & Woodhead, 1959). Hal ini mempunyai implikasi yang signifikan karena peristiwa mendadak, tak terduga, dan kritis adalah khas pada kondisi darurat di penerbangan. Di sejumlah kasus accident dan serious incident, memperlihatkan bahwa pilot yang melakukan tindakan kurang efektif pada situasi kritis, mengungkap adanya isu severe startle yang berkontribusi terhadap penurunan performance pilot (Martin, et.al., 2013). 

Freezing
       Freezing adalah reaksi stres akut yang merupakan cara yang disadari ataupun tidak disadari untuk menangani stresor yang berlebihan. Satu studi mengartikan freezing sebagai "mekanisme mengatasi stres yang melibatkan mekanisme bawah sadar untuk menghilangkan stres, atau ketidakpercayaan yang disadari bahwa fenomena tersebut benar-benar terjadi" (Leach, 2004)Freezing umumnya merupakan gangguan cukup kuat dalam proses kognitif yang biasanya terintegrasi di dalam otak. Kadang-kadang orang yang mengalami freezing tetap sadar akan apa yang terjadi di sekitar mereka, tetapi tidak mampu mengambil tindakan secara motorik dan/ataupun secara kognitif.
         Reaksi seperti ini relatif sering terjadi, dan menjadi catatan penting dalam simulasi kecelakaan dan evakuasi kecelakaan pesawat udara yang sebenarnya. Dari observasi, dalam freezing, proses kognitif diawali oleh rasa takut yang akut, sehingga working memory dikuasai oleh pikiran yang tidak relevan tentang akibat yang menakutkan. "Kelumpuhan" atau "ketakutan yang amat sangat" telah menjadi ingatan umum dari beberapa orang yang selamat dari situasi kritis seperti itu.
 Tidak seperti denial yang cukup sulit untuk diukur, kebanyakan orang akrab dengan konsep freezing dalam kondisi stres akut. Gejala freezing pada perilaku saat menghadapi ancaman lebih terlihat dan observable. Freezing digambarkan sebagai respons terhadap ancaman yang luar biasa di mana, pada tingkat bawah sadar, otak tidak mampu mengatasi kompleksitas dan bahaya yang ditimbulkan oleh keadaan yang berubah tiba-tiba. Laporan dari para penyintas dari kebakaran anjungan minyak dan sebuah kapal yang tenggelam, misalnya, menggambarkan orang-orang terlihat hanya membeku atau lumpuh dan tidak mampu bertindak apa-apa untuk menyelematkan diri, meskipun ada dorongan atau upaya membantu dari penumpang lain.
Beberapa kasus kecelakaan penerbangan, di alami pilot yang mengalami freezing dalam situasi kritis. Captain pilot atau pilot in command tampaknya mengalami freezing setelah rejected takeoff atau aborted takeoff  (Heaslip, et.al., 1991).  Dia menutup tuas dorong (thrust levers), tetapi tidak mengerem, ia hanya terpaku menatap lurus ke depan. Pesawat melaju cepat di ujung landasan pacu pada kecepatan 70 kt, dan menewaskan dua orang.  Pada kasus lain (Martin, et.al., 2013), wawancara terhadap pilot yang pernah mengalami peristiwa kritis/darurat dalam operasi penerbangan mengungkapkan peristiwa nyata di mana captain pilot mengalami freezing saat approach. Pesawat terus turun jauh di bawah jalur luncur (glide path) sampai saat visual pada ketinggian yang sangat rendah akan menabrak gedung apartemen.  Beruntung, saat visual, captain bisa recover, dan mampu melakukan manuver mengelak di menit-menit terakhir melalui celah yang sempit sehingga dapat menghindari tabrakan dengan bangunan. Sebelumnya second officer atau co-pilot sudah berulang kali berusaha mengingatkan captain bahwa ia menyimpang dari glide path, ia juga sudah mencoba beberapa kali mengambil alih kontrol dan tidak berhasil sampai ia memukul captain untuk mengambil alih kontrol. Wawancara dari subjek lainnya menggambarkan situasi di mana seorang siswa pilot militer, ketika berlatih spin dengan rotasi tinggi, hanya membeku selama recover dari spin. Siswa pilot tidak responsif, dan membuat pilot instruktur harus memukul siswa secara fisik untuk membuatnya melepaskan pegangan pada kontrol. Recover yang sukses akhirnya dapat dilakukan jelang ketinggian bailout.

Denial
Denial (penyangkalan) juga merupakan mekanisme coping yang bersifat emosional, seperti freezing.  Ini merupakan proses manusiawi yang sangat mendasar. Ketika seseorang menilai stimulus sebagai ancaman dan tekanan, maka mekanisme untuk mengatasi ancaman tersebut dapat berbentuk penyangkalan atau mengabaikan stimulus yang mengancam tersebut (Martin, et.al., 2013).
Denial tampaknya juga merupakan mekanisme di bawah sadar, ketika orang menghadapi gangguan yang mengancam jiwa. Ada beberapa orang yang mengabaikan ancaman untuk beberapa waktu daripada harus memikirkan kematian yang penuh tekanan. Menyangkal adanya ancaman mungkin mungkin sangat efektif dalam menghilangkan stres. Hal ini terjadi ketika aliran informasi penting tidak diproses sebagai bagian dari mekanisme penanganan stres akut ini.
Denial bisa menjadi masalah ketika situasi seperti cuaca yang memburuk atau status pesawat menambah ancaman. Stresor yang berkembang cepat, yang memungkinkan teradinya denial, umumnya lebih diperhatikan dalam situasi kritis. Karena denial dapat menimbulkan implikasi yang lebih parah dalam situasi kritis sehingga diperlukan analisis yang cermat dan penyelesaian masalah secara logis. Wawancara terhadap pilot maskapai dalam penelitian ini (Martin et.al., 2013) mengungkapkan bahwa denial dalam jangka pendek relatif umum terjadi dalam situasi ini, responden melaporkan bahwa mereka pernah mengalami beberapa tingkat denial, setidaknya 15 dari 45 peristiwa yang mereka ingat.  Umumnya merupakan denial jangka pendek, dan itu tidak menimbulkan konsekuensi bencana. Namun, yang menimbulkan pertanyaan adalah berapa banyak kecelakaan fatal yang terjadi karena kontribusi pilot mengalami denial, misalnya pilot tidak berhasil me-recovery keadaan pesawat saat mengadapi masalah atau recovery-nya tertunda terlalu lama.
Hasil wawancara dengan para pilot menunjukkan bahwa pada periode denial yang singkat seperti itu tidak biasa, meskipun dalam semua situasi yang dibahas oleh responden, denial yang berlangsung singkat dapat diatasi ketika proses rasional dimulai. Denial, jika terus berlanjut, bisa sangat merugikan, meskipun belum ada informasi yang jelas dari data penyelidikan kecelakaan tentang sejauhmana mekanisme denial terlibat sebagai penyebab kecelakaan.  Namun, ada beberapa contoh di mana pilot tidak mengambil tindakan pada saat intervensi tertentu diperlukan, menunjukkan bahwa denial setidaknya merupakan satu kemungkinan. Diperlukan penelitian lebih lanjut di bidang ini.
Seorang ahli dalam subjek ini berupaya menggambarkan taksonomi patologis dalam tujuh tahap mekanisme denial (Breznitz, S. 1983),  yaitu; denial terhadap relevansi, denial terhadap urgensi, denial terhadap kerentanan, denial terhadap afek, denial terhadap relevansi afek, denial terhadap informasi yang mengancam, dan denial terhadap informasi. Tahap awal atau denial terhadap relevansi perlu diwaspadai dalam konteks penerbangan, sedangkan tahap terakhir atau ketika informasi yang mengancam atau semua informasi disangkal, maka kondisi ini sangat mengkhawatirkan dalam konteks keselamatan penerbangan.
Sebagai rangkuman, jika situasi kritis muncul selama operasi penerbangan tetapi pilot secara tidak sadar menyangkal isyarat adanya ancaman, maka secara substansial kemungkinan recovery akan berkurang. 

Referensi :
1.      Asli, O., and Flaten, M.A. 2012. “In the blink of an eye: Investigating the role of awareness in fear responding by measuring the latency of startle potentiation.” Brain Science 2: 61–84.
2.   Breznitz, S. 1983. “The seven kinds of denial.” In S. Breznitz (Ed.). The Denial of Stress.  New York: International Universities Press.
3.   Duckworth, K.L.,. Bargh, J.A, Garcia, M., and Chaiken, S. 2002. “The automatic evaluation of novel stimuli.” Psychological Science 13: 513–519.
4.     Folkman, S., Lazarus, R.S., Dunkel-Schetter, C., DeLongis A., and Gruen, R.J. 1986. “Dynamics of a stressful encounter: Cognitive appraisal, coping, and encounter outcomes.” Journal of Personality and Social Psychology 50 (5): 992–1003.
5.    Fritz, C.E., and Marks, E.S. 1974. “The NORC studies of human behaviour in disaster.” Journal of Social Issues 10 (3): 26–41.
6.  Heaslip, T.W., N. Hull, R.K. McLeod, and R.K. Vermil. 1991. “The frozen pilot syndrome.”  In Proceedings of the 6th International Symposium on Aviation Psychology, Columbus, Ohio: 782–787.
7.  King, G.G., 1994. General Aviation Training for “Automation Surprise”. Metropolitan State College of Denver.

8.   Lazarus, R.S. 1966. Psychological Stress and the Coping Process. New York: McGraw-Hill.

9.   Lazarus, R.S., and S. Folkman. 1984. Stress, Appraisal, and Coping. New York: Springer.

10.  Leach, J. 2004. ‘“Why People ‘Freeze’ in an Emergency: Temporal and Cognitive Constraints on Survival Responses.” Aviation, Space, and Environmental Medicine 75 (6): 539–542.
11.  Le Doux, J.E. 2000. “Emotion circuits in the brain.” Annual Review of Neuroscience 23: 155–184.

12. Martin, W.L., Murray, P.S., and Bates, P.R. 2010. “The effects of stress on pilot reactions to unexpected, novel, and emergency events.” In Proceedings of the 9th Symposium of the Australian Aviation Psychology Association, Sydney, 19–22 April, 2010.

13. Martin, W.L., Murray, P.S., and Bates, P.R.  2013. “Pathological reactions: Researchers explore pilot impairment from severe startle, freezing and denial during unexpected critical events”. Flight Safety Foundation. Alexandria, Virginia 22314. https://t.co/4JmE7b7V1T. November 27, 2019.
14.  Monat, A., and R.S. Lazarus. 1991. Stress and Coping. New York: Columbia University Press.
15. Muir, H.C., C. Marrison, and A. Evans. 1989. “Aircraft evacuations: The effect of passenger motivation and cabin configuration adjacent to the exit.” London, U.K.: Civil Aviation Authority, CAA Paper 89019.
16. Muir, H.C., D.M. Bottomley, and C. Marrison. 1996. “Effects of cabin configuration and motivation on evacuation behaviour and rates of egress.” International Journal of Aviation Psychology 6 (1) 57–77.
17. Simons, R.C. 1996. Boo!: Culture, experience, and the startle reflex. U.S.: Oxford University Press.
18.  U.K. Air Accidents Investigation Branch. 1988. “Report on the accident to Boeing 737-236 Series 1, G-BGJL at Manchester International Airport on 22 August 1985 (Aircraft Accident Report 8/88).” London: Her Majesty’s Stationery Office.
19.  Vlasek, M. 1969. “Effect of startle stimuli on performance.” Aerospace Medicine 40: 124-128.
20. Woodhead, M.M. 1959. “Effect of brief noise on decision making.” Journal of The Acoustic Society of America 31: 1329–1331.
21.  Woodhead. 1969. “Performing a visual task in the vicinity of reproduced sonic bangs.” Journal of Sound Vibration 9: 121–125.
22.  Wolfe, T. 2001. The Right Stuff. New York: Bantam Books.
23. Yeomans, J.S., and Frankland, P.W. 1996. “The acoustic startle reflex: Neurons and connections.” Brain Research Reviews 21: 301-314.