Kamis, 02 Juni 2011

FAKTOR LINGKUNGAN, PERBEDAAN INDIVIDUAL DAN SITUATION AWARENESS PENERBANG

Drs. Widura Imam Mustopo, MSi.

Pendahuluan

Kemajuan industri penerbangan yang pesat dalam beberapa puluh tahun terakhir ditandai dengan meningkatnya kehandalan dan kinerja pesawat terbang generasi baru hingga diaplikasikannya inovasi-inovasi berbagai peralatan operasional termasuk prosedur-prosedur ATC (air traffic control). Hal ini tidak dapat dipungkiri memberikan dampak pada operator, penerbang pada khususnya, untuk lebih memperhatikan beberapa persyaratan kemampuan dan keterampilan yang harus dipenuhi. Faktor manusia menjadi penting terutama tuntutan pada aspek-aspek psikologis tertentu, mengingat kemajuan teknologi memberikan dampak pada meningkatnya tuntutan terhadap kemampuan yang berhubungan dengan kompleksitas kognitif. Perhatian terhadap aspek psikologi faktor manusia menjadi penting, kegagalan padanya dapat menyebabkan kecelakaan. Oleh karena itu, selama beberapa dekade belakangan ini berbagai upaya terus dilakukan untuk mencegah berulangnya kecelakaan pesawat terbang. Namun pada kenyataannya berbagai upaya tersebut tidak menurunkan angka kecelakaan penerbangan yang disebabkan kesalahan manusia (human error).

Sejalan dengan performa pesawat terbang yang harus terus bergerak secara dinamis dalam lingkungan penerbangan yang dinamis pula, maka penerbang tidak hanya harus tahu bagaimana mengoperasikan pesawatnya, tapi juga harus memperolah gambaran yang akurat tentang lingkungan dimana pesawatnya bergerak. Menghadapi hal ini bukanlah tugas yang sederhana bagi penerbang, mengingat kompleksitas sejumlah faktor yang harus diperhitungkannya untuk membuat keputusan dan bertindak secara efektif. Khususnya terkait dengan situation awareness (SA), tugas penerbang tidak sesederhana sekedar mempersepsi data saja, tapi juga tergantung pada sejauhmana ia memahami secara mendalam data-data yang signifikan dari lingkungan yang didasarkan atas pengertian tentang bagaimana komponen dari lingkungan berinteraksi dan berfungsi, dan selanjutnya mampu memprediksi kondisi sistem ke depannya. Kesalahan SA jelas dapat menyebabkan dampak yang tidak diinginkan yaitu kecelakaan pesawat terbang.

SA sangat penting dalam konteks pengambilan keputusan dan tindakan penerbang, terutama bagi mereka yang bekerja dalam sistem yang kompleks dan lingkungan yang dinamis (Endsley, 1995). Tuntutan untuk mempertahankan SA menjadi sulit mengingat kompleksitas sistem dan dinamisnya lingkungan penerbangan yang dihadapi penerbang. Dalam lingkungan yang dinamis, banyak keputusan harus diambil dalam ruang dan waktu yang sempit dimana hal tersebut tergantung pada tugas yang terus berjalan dan analisis terhadap lingkungan juga harus terus diperbaharui (up-to-date). Hal ini membuat usaha untuk mempertahankan SA merupakan salah satu faktor penting yang menentukan kinerja penerbang sebagai pengambil keputusan, terutama dalam mencegah tindakan yang dapat menyebabkan kecelakaan. Kaempf, Wolf, dan Miller (dalam Endsley, 1995) mengambarkan bahwa “recognizing the situation provided the challenge to decision maker”, pendapat yang menunjukan pentingnya SA.

Terdapat tiga kegiatan dalam SA, yaitu; persepsi atau mengamati, memahami secara utuh, dan memprojeksikan apa yang akan terjadi di depan. Endsley (1999) mengungkapkan adanya tiga level dalam SA, yaitu; pengamatan terhadap faktor-faktor kritis dari lingkungan (Level 1 SA), memahami apa arti dari faktor-faktor tersebut khususnya dalam integrasinya dengan goal awak pesawat (Level 2 SA), dan memahami apa yang akan terjadi sesaat ke depannya (Level 3 SA). Dalam proses membentuk atau mencapai SA, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi SA dalam settings yang kompleks seperti halnya di penerbangan, yaitu; faktor individual yang membedakan individu satu dan lainnya dalam mencapai SA, dan faktor lingkungan eksternal yang mencakup kondisi stress, maupun perkembangan teknologi pesawat terbang yang berdampak pada pencapaian SA.

Secara teoritik yang didukung oleh beberapa penelitian terpisah menunjukan bahwa baik faktor eksternal maupun individual cukup berpengaruh pada SA. Faktor eksternal yang berkaitan dengan kondisi lingkungan termasuk di dalamnya kompleksitas teknologi dan stres serta beban kerja diketahui berpengaruh terhadap SA. Stresor misalnya dapat mempengaruhi SA dengan menyempitkan rentang perhatian, mereduksi masuknya informasi dan mengurangi kapasitas working memory. Bila volume informasi berlebihan dan jumlah tugas sangat besar (overload), SA akan terkena dampaknya. Faktor terbesar yang juga berpengaruh pada SA adalah tingkat kompleksitas berbagai sistem yang harus dioperasikan penerbang. Kompleksitas sistem dapat memberikan dampak negatif baik bagi beban kerja maupun SA penerbang sejajar dengan bertambahnya jumlah komponen sistem yang dikelola. Lebih kompleks sistem yang dioperasikan, akan bertambah pula beban kerja mental untuk mendapatkan SA yang baik. Faktor eksternal lainnya yang juga berpengaruh pada SA adalah automation. Perkembangan teknologi dalam bentuk automation memberikan kemudahan bagi operator untuk bekerja namun konsekuensinya juga dapat memberikan dampak negatif pada SA.

Demikian pula dengan faktor perbedaan individual yang di antaranya berkaitan dengan kemampuan (abilities) individu, seperti daya ingat dan perhatian, yang berpengaruh pada pencapaian SA. Dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan dilaporkan bahwa terdapat perbedaan individual dalam proses pencapaian SA (Endsley, 1994, 1995, 1999). Kemampuan individu untuk memvisualisasikan dan memanipulasi objek-objek dalam ruang adalah hal penting untuk mencapai SA. Khususnya dalam lingkungan penerbangan dituntut kemampuan memahami hubungan spatial antara objek-objek yang bergerak secara dinamis dalam ruang tiga dimensi. Selain itu, untuk membentuk SA, dibutuhkan perhatian langsung (direct attention) dan memproses informasi dari lingkungan penerbangan, untuk kemudian memilih tindakan yang tepat. Dalam lingkungan penerbangan yang kompleks dan dinamis, informasi dapat menjadi berlebihan (overload), kompleksitas dan kemajemukan tugas dapat secara cepat melampui limitasi kapasitas perhatian. Secara teoritik Endsley (1994) mengemukakan bahwa SA juga berhubungan dengan kapasitas daya ingat kerja (working memory) serta kualitas daya ingat jangka panjang (long-term memory).

Dari uraian di atas dapat dijelaskan bahwa secara teoritik yang didukung oleh beberapa penelitian terpisah menunjukan baik faktor eksternal maupun individual cukup berpengaruh pada SA. Dalam makalah disini akan diulas pengertian SA, elemen-elemen SA, faktor individual yang mempengaruhi situation awareness,faktor lingkungan eksternal yang mempengaruhi situation awareness, kesalahan situation awareness, faktor eksternal/tugas dan perbedaan individual dalam mempertahankan SA, dan instrumen untuk mendeteksi SA, serta bagaimana faktor-faktor tersebut dapat berpengaruh pada pencapaian SA.

Pengertian Situation Awareness (SA)

Seperti telah diuraikan sebelumnya, dalam situation awareness (SA), tugas penerbang tidak sekedar mempersepsi lingkungan saja, tapi juga sejauhmana ia memahami secara mendalam data-data yang signifikan dari lingkungan tersebut yang didasarkan atas pengertiannya tentang bagaimana komponen dari lingkungan berinteraksi dan berfungsi, serta selanjutnya ia mampu memprediksi kondisi sistem ke depannya. Secara formal situation awareness didefinisikan sebagai ;

“the perception of the elements in the environment within a volume of time and space, the comprehension of their meaning and the projection of their status in the near future” (Endsley, 1988)

Bila diamati definisi tersebut di atas, terdapat tiga kegiatan yang tercakup di dalam SA, yaitu; persepsi atau mengamati, memahami secara komprehensif, dan memproyeksikan apa yang terjadi ke depan. Lebih kongkrit, Endsley (1999) mengungkapkan adanya tiga level dalam SA, yaitu; perceiving critical factors in the environment atau pengamatan terhadap faktor-faktor kritis dari lingkungan (Level 1 SA), understanding what those factors mean, particularly when integrated together in relation to aircrew’s goals atau memahami apa arti dari faktor-faktor tersebut khususnya dalam integrasinya dengan goal awak pesawat (Level 2 SA), dan level yang tertinggi adalah an understanding of what happen with the system in the near future memahami apa yang akan terjadi sesaat ke depannya (Level 3 SA). Secara lebih rinci tiga level dalam SA;

Level 1 SA – Perception of The Elements In The Environment

Merupakan langkah pertama dalam mencapai SA yang berhubungan dengan pengamatan terhadap status, atribut-atribut, dan dinamika dari semua elemen dalam lingkungan yang relevan. Dalam hal ini, misalnya seorang penerbang mengamati elemen-elemen penting di lingkungan seperti mengamati adanya pesawat lain, terrain, status dari sistem dan instrumen lampu peringatan (warning lights). Dalam kokpit, penerbang berjaga mengamati semua sistem dan data yang relevan, seperti mengamati pesawat lain yang ada di sekitarnya dan data navigasi ketika pesawat bergerak.

Level 2 SA – Comprehension of The Current Situation

Memahami (secara menyeluruh) situasi yang didasarkan atas sintesa dari elemen-elemen yang diamati pada level 1. Level 2 SA secara sederhana dapat diartikan sebagai “menyadari” (being aware) adanya elemen-elemen lingkungan, untuk mengartikan elemen-elemen yang signifikan dengan tujuan (goal) awak pesawat. Disini awak pesawat mengambil data level 1 untuk mendapatkan gambaran lingkungan secara holistik, termasuk memahami secara utuh objek-objek dan kejadian-kejadian yang signifikan. Sebagai contoh, ketika melihat lampu peringatan di panel yang mengindikasikan adanya masalah untuk lepas landas, penerbang harus secepatnya menentukan keseriusan dari masalah tersebut dan menetapkan sesegera mungkin kelaikan pesawat dan mengintegrasikan dengan informasi kondisi runway untuk memutuskan apakah ia lepas landas atau menggagalkannya. Seorang penerbang yunior mungkin mampu mencapai level 1 SA seperti halnya penerbang senior, tetapi ia kemungkinan akan gagal untuk mengintegrasikan elemen-elemen data yang bervariasi untuk menentukan kondisi nyata saat itu juga, dalam kaitan memahami situasi secara utuh.

Level 3 SA – Projection of Future Status

Merupakan kemampuan untuk memproyeksikan ke depan tindakan yang akan diambil berdasarkan elemen-elemen lingkungan. Level ini dicapai melalui pengetahuan tentang status dan dinamika elemen serta memahaminya secara komprehensif situasinya (level 1 dan level 2). Amalberti dan Deblon (dalam Endsley, 1999) melaporkan bahwa umumnya penerbang senior sebagian besar waktunya adalah mengantisipasi kemungkinan kejadian di depan (future occurrences). Hal ini menunjukan pentingnya pengetahuan (dan waktu) untuk memutuskan tindakan yang tepat sesuai tujuan.

Elemen-elemen SA

Secara jernih dapat difahami bahwa dalam SA melibatkan tiga level SA, yaitu mengidentifikasikan hal-hal apa yang dibutuhkan penerbang untuk diamati, memahaminya, dan memproyeksikannya ke depan. Tentunya perlu diketahui elemen-elemen apa saja di lingkungan penerbang yang penting dalam SA. Sebenarnya elemen-elemen lingkungan yang penting untuk diketahui dapat bervariasi sesuai dengan berbagai jenis sistem pesawat terbang, namun umumnya elemen lingkungan yang penting untuk SA adalah sebagai berikut;

Geographical SA – elemen ini berhubungan dengan lokasi pesawat sendiri, gambaran terrain, bandara, kota-kota, arah navigasi, posisi relatif dari pesawat dalam gambaran geografis, landasan pacu & landasan taxi (runway & taxiway), jalur ke lokasi yang dituju, titik mendekat/menanjak (climb/descent points).

Spatial/Temporal SA – sikap (attitude), ketinggian (altitude), arah (heading), percepatan (velocity), percepatan vertikal (vertical velocity), gaya gravitasi, jalur terbang, deviasi rencana terbang dengan yang diijinkan (saat itu), kapabilitas pesawat terbang, jalur terbang yang diproyeksikan, waktu mendarat yang diproyeksikan.

System SA – system status, functioning and settings, settings of radio, peralatan altimeter dan transponder, komunikasi ATC (air traffic control communications), deviasi dari correct settings, flight modes and automation entries and settings, dampak dari kegagalan/penurunan fungsi sistem serta settings atas performa sistem dan keselamatan penerbangan, bahan bakar, waktu dan jarak yang ditempuh sesuai kapasitas bahan bakar.

Environmental SA – bentuk kondisi cuaca (area dan ketinggian serta gerakan), temperatur, icing, putaran angin, awan, embun, sinar matahari, turbulence, angin, microburst, kondisi IFR vs VFR, area dan ketinggian yang harus dihindari, keselamatan penerbangan, prediksi kondisi cuaca.

Untuk pesawat terbang militer, terdapat tambahan beberapa elemen penting yang berhubungan dengan misi militer, yaitu;

Tactical SA – identifikasi, status taktis, jenis, kapabilitas, lokasi dan dinamika pesawat lawan; kapabilitas sendiri dihadapkan dengan pasawat lawan; deteksi pesawat, kemampuan melepaskan rudal/tembakan dan mengunci sasaran; memprioritaskan ancaman; kondisi terkini dan prediksi intensi ancaman, taktik yang digunakan, manuver yang dilakukan dan pola menembak; status dan waktu misi.

Menentukan elemen SA yang dipersyaratkan untuk tiap kelas dan jenis pesawat adalah tergantung pada goals awak pesawat dalam situasi peran yang dihadapinya. Misalnya, apakah mereka dalam peran akan lepas landas, mendarat atau dalam kondisi kedaruratan (emergency).

Faktor Individual yang Mempengaruhi Situation Awareness

Untuk memahami SA dimana terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi SA dalam settings yang kompleks seperti halnya di penerbangan, telah dikembangkan model teoritik untuk menjelaskan faktor-faktor yang mendasari situation awareness (Endsley, 1999). Model tersebut dapat dilihat pada gambar 1. Terkait dengan faktor individual, Endsley (1994, 1995, 1999) berhasil mengidentifikasikan lima area utama yang berhubungan dengan perbedaan individual dalam SA, yaitu; kemampuan spatial (pandang ruang), attention (perhatian), memory (daya ingat), persepsi, dan fungsi-fungsi kognitif. Dari beberapa area tersebut masih dapat dikategorikan lagi mengingat dalam proses, aktivitas atribut berlangsung spesifik. Misalnya, dalam membahas daya ingat perlu membedakan antara daya ingat jangka panjang (long-term memory) dengan daya ingat kerja (working memory) sebagai bagian dari daya ingat jangka pendek (short-term memory). Fungsi-gungsi kognitif (Endsley, 1994) terbagi ke dalam, kompleksitas kognitif, kemandirian berpikir, dan locus of control.

Spatial

Kemampuan individu untuk memvisualisasikan dan memanipulasi objek-objek dalam ruang serta memvisualisasikan arah/orientasi dirinya terhadap objek-objek tersebut adalah hal penting untuk mencapai SA dalam sistem penerbangan.

SA khususnya dalam lingkungan penerbangan menuntut kemampuan memahami hubungan spatial antara objek-objek yang bergerak secara dinamis dalam ruang tiga dimensi. Kemampuan spatial ini juga dibutuhkan untuk tujuan-tujuan navigasi. Hasil penelitian Thorndyke dan Stasz (dalam Endsley, 1994) menemukan perbedaan signifikan antar individu dalam mempelajari peta, dimana hal ini berkorelasi dengan visual-spatial abilities.

Gambar 1. Model Situation Awareness dari Endsley.

Attention

Kapabilitas yang berhubungan dengan perhatian (attention) dan membagi perhatian (attention sharing) adalah hal penting untuk mencapai SA yang baik. Dalam settings penerbangan, perkembangan SA dan proses pengambilan keputusan sangat sempit karena perhatian dan kapasitas memory yang terbatas terutama bagi penerbang yunior dalam situasi yang terus bergerak. Untuk membentuk SA, dibutuhkan perhatian langsung (direct attention) untuk melihat dan memproses informasi dari lingkungan penerbangan yang dinamis, dalam rangka memilih tindakan yang tepat dan sekaligus mengeksekusinya. Dalam lingkungan penerbangan yang kompleks dan dinamis, informasi dapat menjadi berlebihan (overload), kompleksitas dan kemajemukan tugas dapat secara cepat melampui kapasitas perhatian yang terbatas. Mendistribusikan perhatian ke berbagai arah, dengan sumber informasi yang terbatas dan beberapa tugas yang harus dilaksanakan segera, merupakan tantangan tersendiri bagi penerbang. Beberapa peneliti (Damos, North & Gopher, dan Gopher & Kahneman, dalam Endsley, 1994) mendapatkan korelasi yang signifikan antara time-sharing dan flight performance, atau selective-attention abilities dengan keberhasilan penerbang.

Memory

Secara teoritik Endsley (1994) mengemukakan bahwa SA berhubungan dengan kapasitas daya ingat kerja (working memory) dan kuantitas serta kualitas daya ingat jangka panjang (long-term memory). Terutama working memory berperan penting dalam proses SA. Level 2 dan 3 SA melibatkan peran aktif working memory. Melalui working memory individu berusaha mengintegrasikan informasi terkini dari berbagai sumber, kemudian membandingkan informasi tersebut dengan tujuan, dan memproyeksikan skenario yang akan terjadi dari dinamika situasi yang diketahui. Working memory sangat berperan (dan dapat saja melebihi kapasitas yang ada) dalam kegiatan pengambilan keputusan dan pelaksanaan tugas-tugas penerbangan yang dinamis dan terus berlanjut. Dalam kondisi ini, daya ingat jangka panjang dapat membantu atau mengurangi secara substantif beban working memory.

Fungsi-fungsi Kognitif

Fungsi kognitif tingkat tinggi berguna dalam membantu pencarian informasi dan memasangkan atau mengintegrasikan informasi-informasi yang diperoleh (khususnya) ke bentuk Level 2 & 3 SA, yaitu; memahami dan memproyeksikan. Setidaknya informasi yang diperoleh dapat dipadankan dengan simpanan ingatan dan menganalisnya sesuai keperluan. Beberapa aspek dari fungsi-fungsi kognitif yang berhubungan dengan SA adalah kompleksitas kognitif, kemandirian berpikir, dan locus of control.

Kompleksitas Kognitif. Kompleksitas kognitif yang dimiliki individu berjenjang bergerak dari kongkrit sampai dengan abstrak. Individu-individu yang berpikir kongkrit akan merespon lingkungan dengan orientasi bersifat permukaan, mereka sangat tertutup untuk hal-hal yang berkaitan dengan keyakinan dan mengidentifikasi secara kuat peran sosial dan posisi status. Sedangkan individu yang berpikir abstrak, cenderung bereaksi terhadap lingungan atas dasar nilai-nilai dan keyakinan internal. Kompleksitas kognitif ditemukan berhubungan dengan kemampuan individu untuk mengatasi beban kerja mental dengan pemecahan masalah secara umum (Robertson, dalam Endsley, 1994).

Kemandirian Berpikir. Kemandirian berpikir ini berhubungan dengan kemampuan individu untuk merstruktur permasalahan secara kognitif, untuk melihat objek-objek yang jauh dari konteks, atau menyusun organisasi baru dari permasalahan yang tak terstruktur, sebagai kebalikan dari orang yang berpikir dependent yang umumnya terbatas pada organisasi masalah yang sudah ada saja (Witkin & Goodenaough, dalam Endsley, 1994). Beberapa hasil penelitian (Stasz & Thorndyke, 1980 ; Witkin, Goodenaough, & Oltman, 1977 ; Witkin, Moore, Goodenaough, & Cox, 1977, dalam Endsley, 1994) menunjukan bahwa individu-individu dengan kemampuan berpikir mandiri lebih efektif dalam mengambil keputusan dalam situasi yang bervariasi, termasuk pada tugas pengamatan, tugas transformasi, tugas melengkapi gambar, dan membaca peta.

Locus of Control. Locus of Control merupakan faktor penting untuk melihat sejauhmana individu berperan aktif untuk mendapatkan SA. Seseorang yang memiliki kontrol internal percaya bahwa keberhasilan yang dicapainya adalah karena tindakannya sendiri. Berbeda dengan individu yang lebih memiliki kontrol eksternal, yang lebih meyakini bahwa keberhasilannya disebabkan nasib baik, kesempatan, atau karena tindakan orang lain. Dalam penelitian yang berhubungan dengan SA, atribut yang ditampilkan dalam tes locus of control diadministrasikan untuk membandingkan beberapa kelompok penerbang tempur dalam simulasi misi pertempuran.

Faktor Lingkungan Eksternal yang Mempengaruhi Situation Awareness

Bila sebelum telah diulas tentang pengaruh dari perbedaan faktor individual terhadap SA, maka yang tidak kalah pentingnya adalah dampak dari sistem dan faktor eksternal terhadap SA. Faktor-faktor ini merupakan tantangan tersendiri bagi awak pesawat dalam mencapai dan mempertahankan SA yang baik dalam berbagai situasi. Beberapa faktor eksternal tersebut adalah;

Stres

Beberapa jenis faktor stres dalam lingkungan penerbangan yang dapat memberikan dampak pada SA, antara lain;

1. Stresor Fisik – bising (noise), vibrasi, kondisi dingin/panas, cahaya, kondisi atmosfer, jenuh (boredom), fatigue, perubahan siklus, gaya gravitasi, dan

2. Stresor Sosial/Psikologis – takut atau cemas, kondisi tak tentu, konsekuensi atau derajat kepentingan dari situasi yang terjadi, self-esteem, progres karir, beban mental, dan tekanan waktu (Hockey, dan Sharit & Salvendy, dalam Endsley, 1994).

Tingkat stres tertentu secara nyata dapat mengubah performance melalui meningkatnya perhatian terhadap aspek-aspek penting dari situasi yang dihadapi. Jumlah stres yang besar dapat memberikan konsekuensi negatif, sehubungan dengan meningkatnya fungsi otonom fisiologis dan aspek-aspek stresor yang menuntut perhatian individu untuk mengatasinya. Stresor dapat mempengaruhi SA dengan berbagai cara, seperti menyempitkan rentang perhatian, mereduksi masuknya informasi dan mengurangi kapasitas working memory. Sedangkan sejauhmana penurunan working memory memberikan dampak pada SA tergantung dari resources yang sesuai yang dimiliki individu. Resources ini berkaitan dengan long-term memory yang sesuai untuk mendukung, seperti pengetahuan dan pengalaman tentang situasi yang dihadapi (Endsley, 1999).

Beban kerja atau Workload (Overload/Underload)

Beban kerja yang tinggi merupakan stresor penting dalam penerbangan yang dapat memberikan dampak negatif bagi SA. Bila volume informasi berlebihan dan jumlah tugas sangat besar (overload), SA akan kena dampaknya dengan hanya memperhatikan informasi secara terbatas, atau penerbang tetap aktif bekerja mencapai SA dalam usahanya untuk mencegah kesalahan dengan informasi yang tak lengkap dan mengintegrasikannya. SA yang buruk juga dapat terjadi pada beban kerja yang rendah (underload). Dalam kasus disini, penerbang hanya memiliki sedikit ide tentang apa yang sedang berlangsung dan tidak secara aktif berusaha menemukan informasi penting, hal ini karena masalah kesiagaan atau kewaspadaan ataupun lemahnya motivasi. Umumnya dampak dari beban kerja yang rendah membuat penerbang hanya sedikit memberikan perhatian (misalnya, dalam penerbangan yang panjang) terhadap SA.

System Design

Kapabilitas pesawat terbang untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan dan bagaimana informasi itu ditampilkan memberikan dampak yang cukup besar bagi SA penerbang. Kurangnya informasi secara pasti dapat memunculkan masalah untuk SA, tetapi terlalu banyak informasi juga dapat menimbulkan masalah yang sama. Sejajar dengan pengembangan kemampuan avionik (sistem elektronika pesawat) pesawat terbang yang bertambah maju dalam beberapa dekade belakangan membawa peningkatan yang dramatis dalam jumlah tampilan informasi yang sesuai/diperlukan. Rancang bangun sistem yang terkait dengan sistem informasi dapat memberikan tampilan gambaran informasi yang lebih baik tentang situasi secara utuh. Perkembangan system design yang dapat mengintegrasikan data merupakan tujuan untuk mengurangi masalah SA karena kelemahan di bidang ini (Endsley, 1999).

Kompleksitas Sistem

Faktor terbesar yang menimbulkan tantangan bagi SA adalah kompleksitas berbagai sistem yang harus dioperasikan penerbang. Di sana terdapat beraneka macam banyaknya sistem avionik, sistem manajemen penerbangan (flight management system) dan berbagai teknologi lainnya di kokpit yang menambah kompleksitas sistem yang harus dioperasikan penerbang. Kompleksitas sistem dapat memberikan dampak negatif baik bagi beban kerja maupun SA penerbang sejajar dengan bertambahnya jumlah komponen sistem yang harus dikelola. Lebih kompleks sistem yang dioperasikan, akan bertambah pula beban kerja mental untuk mendapat SA yang baik. Bilamana tuntutan kerja melebihi kapabilitas manusia, maka SA akan terkena dampaknya.

Automation

Adanya perkembangan teknologi pesawat terbang yang lebih maju dan memberikan kemudahan seperti automation dapat memberikan dampak negatif pada SA. Operator sistem yang bekerja automation ditemukan menghambat kemampuan untuk mendeteksi kesalahan sistem dan jarang sekali mau menerapkan tugas secara manual ketika dihadapkan pada kegagalan automation (Billings, Moray, Wickens, Wiener & Curry, dalam Endsley, 1999). Sejumlah hasil analisis terhadap beberapa kecelakaan penerbangan menunjukan bahwa umumnya penerbang ketika mengalami kegagalan automation tidak menyadari bahwa keadaan sebenarnya dari sistem automation atau mengenyampingkan untuk mencek keadaan secra manual ataupun tidak menyadari kondisi parameter yang kritis yang sebenarnya harus ia pantau (Endsley, 1999). Mengandalkan automation membuat penerbang seringkali menjadi lambat untuk mendeteksi masalah dan menuntut waktu lebih lama untuk re-orientasi dirinya terhadap sistem parameter yang relevan, sejajar dengan diagnosis masalah dan asumsi untuk memanfaatkan cara manual ketika atomation gagal.

Kesalahan Situation Awareness

Taksonomi untuk mengklasifikasikan dan menjelaskan kesalahan (errors) dalam SA dikemukakan oleh Endsley (1999) berdasarkan model SA (lihat gambar 1). Taksonominya sendiri dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1: Taksonomi Kesalahan (error) SA



Level 1: Failure to coorectly perceive information

Data not available

Data hard to discriminate or detect

Failure to monitor or observe data

Misperception of data

Memory loss

Level 2: Failure to corectly integrate or comprehend information

Lack of or poor mental model

Use of incorrect mental model

Over-reliance on default values

Other

Level 3: Failure to project future actions or state of the system

Lack of or poor mental model

Overprojection of current trends

Other

General

Failure to maintain multiple goals

Habitual schema




Sumber: Endsley, M.R., (1999). Situation Awareness In Aviation System. Dalam, Garland, D.J., dan Hopkin, V.D., (Eds). Handbook of Aviation Human Factors. Mahwah, NJ: Lawrence Eribaum Associates.

Endsley mengaplikasikan taksonomi ini untuk menyelidiki faktor-faktor penyebab yang berkontribusi terhadap terjadinya kecelakaan pesawat terbang di Amerika Serikat berdasarkan laporan penyelidikan kecelakaan pesawat terbang selama periode empat tahun oleh National Transportation Safety Board (NTSB). Dari 71% kecelakaan yang terjadi, secara signifikan penyebabnya adalah human error, dan 88% dari penyebab humen error berkaitan dengan masalah SA. Dari 32 kecelakaan karena sebab kesalahan SA diidentifikasi 23 kecelakaan (72%) berhubungan dengan kesalahan Level 1 SA. Tujuh kecelakaan (22%) karena masalah Level 2 SA dimana data berhasil diamati namun tidak diintegrasikan atau difahami secara tepat, dan dua kecelakaan (6%) disebabkan kesalahan yang berhubungan dengan Level 3 SA dimana terjadi kegagalan untuk memprediksi atau memproyeksikan apa yang akan terjadi berdasarkan pemahaman penerbang terhadap situasi.

Eksternal/Tugas dan Perbedaan Individual dalam Mempertahankan SA.

Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa dari asumsi teoritik dan laporan penelitian menunjukan bahwa terdapat korelasi antar beberapa faktor di lingkungan eksternal seperti stres, beban kerja, System Design, Kompleksitas Sistem, dan Automation dengan SA.

Stresor misalnya dapat mempengaruhi SA dengan menyempitkan rentang perhatian, mereduksi masuknya informasi dan mengurangi kapasitas working memory. Padahal working memory perannya sangat besar untuk mencapai SA yang baik. Selain itu, beban kerja yang tinggi juga dapat menjadi stresor penting dalam penerbangan yang memberikan dampak negatif bagi SA. Bila volume informasi berlebihan dan jumlah tugas sangat besar (overload), SA akan kena dampaknya dengan hanya memperhatikan informasi secara terbatas, atau penerbang berusaha kuat mencapai SA untuk mencegah kesalahan dengan informasi yang tak lengkap. SA yang buruk juga dapat terjadi pada beban kerja yang rendah (underload). Beban kerja yang rendah akan membuat penerbang sedikit memberikan perhatian karena tidak ada tantangan untuk bersiaga.

Sejajar dengan perkembangan sistem avionik pesawat terbang yang maju dalam beberapa dekade belakangan membawa peningkatan yang dramatis dalam jumlah tampilan informasi yang diperlukan. Perkembangan system design yang dapat mengintegrasikan data atau informasi jelas akan mengurangi masalah pada SA. Faktor terbesar yang juga berpengaruh pada SA adalah tingkat kompleksitas berbagai sistem yang harus dioperasikan penerbang. Kompleksitas sistem dapat memberikan dampak negatif baik bagi beban kerja maupun SA penerbang sejajar dengan bertambahnya jumlah komponen sistem yang dikelola. Lebih kompleks sistem yang dioperasikan, akan bertambah pula beban kerja mental untuk mendapatkan SA yang baik. Bilamana tuntutan kerja melebihi kapabilitas manusia, maka SA akan terkena dampaknya.

Faktor eksternal lainnya yang juga berpengaruh pada SA adalah automation. Perkembangan teknologi dalam bentuk automation memberikan kemudahan bagi operator untuk bekerja namun konsekuensinya juga dapat memberikan dampak negatif pada SA. Automation yang diterapkan di pesawat terbang diindikasikan mempengaruhi SA dengan terhambatnya kemampuan penerbang untuk mendeteksi kesalahan sistem, dan seringkali juga membuat penerbang enggan menerapkan tugas secara manual ketika dihadapkan pada kegagalan automation. Mengandalkan automation juga membuat penerbang menjadi lambat untuk mendeteksi masalah dan menuntut waktu lebih lama untuk re-orientasi diri terhadap sistem parameter yang relevan, jelas hal ini berpengaruh pada pencvapaian SA yang baik.

Selain faktor eksternal yang berpengaruh pada SA adalah faktor individual dimana faktor ini berpengaruh pada proses individu dalam mencapai SA. Dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan dilaporkan bahwa terdapat perbedaan individual dalam proses pencapaian SA. Karakteristik individu yang berhubungan dengan SA antara lain; kemampuan spatial, perhatian atau attention, daya ingat atau memory, fungsi-fungsi kognitif yang mencakup kompleksitas kognitif, kemandirian berpikir, dan locus of control.

Kemampuan individu untuk memvisualisasikan dan memanipulasi objek-objek dalam ruang serta memvisualisasikan orientasi diri terhadap objek-objek tersebut adalah hal penting untuk mencapai SA. Khususnya dalam lingkungan penerbangan dituntut kemampuan memahami hubungan spatial antara objek-objek yang bergerak secara dinamis dalam ruang tiga dimensi. Kemampuan spatial ini juga dibutuhkan untuk tujuan-tujuan navigasi. Dalam settings penerbangan, pembentukan SA dan proses pengambilan keputusan, dalam situasi yang terus bergerak dinamis, sangat dibatasi waktu karena perhatian dan kapasitas memory yang terbatas terutama bagi penerbang yunior. Untuk membentuk SA, dibutuhkan perhatian langsung (direct attention) untuk melihat dan memproses informasi dari lingkungan penerbangan, untuk memilih tindakan yang tepat dan mengeksekusinya. Dalam lingkungan penerbangan yang kompleks dan dinamis, informasi dapat menjadi berlebihan (overload), kompleksitas dan kemajemukan tugas dapat secara cepat melampui limitasi kapasitas perhatian. Secara teoritik Endsley (1994) mengemukakan bahwa SA berhubungan dengan kapasitas daya ingat kerja (working memory) dan kuantitas serta kualitas daya ingat jangka panjang (long-term memory). Terutama working memory, tipe memory ini berperan penting dalam proses SA. Working memory berpengaruh pada Level 2 dan 3 SA.

Fungsi kognitif berguna untuk membantu pencarian informasi dan mengintegrasikan informasi-informasi yang diperoleh ke bentuk Level 2 & 3 SA. Kompleksitas kognitif berhubungan dengan pola berpikir kongkrit sampai abstrak. Kompleksitas kognitif ditemukan berhubungan dengan kemampuan individu untuk mengatasi beban kerja mental dengan pemecahan masalah secara umum (Robertson, dalam Endsley, 1994). Selain kompleksitas berpikir, kemandirian berpikir juga berhubungan dengan kemampuan individu untuk merstruktur permasalahan secara kognitif, atau menyusun organisasi baru dari permasalahan yang tak terstruktur. Beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa individu-individu dengan kemampuan berpikir mandiri lebih efektif dalam mengambil keputusan dalam situasi yang bervariasi, termasuk pada tugas pengamatan, tugas transformasi, tugas melengkapi gambar, dan membaca peta. Dalam fungsi kognitif, diindentifikasi bahwa locus of control merupakan faktor penting untuk melihat sejauhmana individu berperan aktif untuk mendapatkan SA. Seseorang yang memiliki kontrol internal percaya bahwa keberhasilan yang dicapainya adalah karena tindakannya sendiri. Berbeda dengan individu yang lebih memiliki kontrol eksternal, yang lebih meyakini bahwa keberhasilannya disebabkan nasib baik, kesempatan, atau karena tindakan orang lain.

Dari uraian di atas dapat dijelaskan bahwa secara teoritik yang didukung oleh beberpa penelitian terpisah menunjukan baik faktor eksternal maupun individual cukup berpengaruh pada SA. Hanya saja memang belum dapat diketahui sejauhmana pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap pencapaian SA.

Instrumen Untuk Mendeteksi SA

Terdapat tiga jenis data yang dapat dikumpulkan dalam mendeteksi SA, pertama data hasil seleksi psikologis yang meliputi aspek-aspek kemampuan dan karakteristik individu. Data ini diukur menggunakan computer assisted tests (CAT4) dan paper and pencils test. Pengukuran dilaksanakan pada saat penerbang mengikuti pemeriksaan psikologi berkala yang dilakukan di Laboratorium Psikologi Penerbangan Dinas Psikologi TNI AU. Pengerjaan tes, sistem koreksi maupun evaluasinya menggunakan norma secara otomatis (computerized). Kedua, data yang diperoleh dari pengukuran melalui angket, khususnya yang berhubungan dengan pengukuran faktor eksternal, seperti; stres, beban kerja, sikap terhadap system design, kompleksitas sistem, dan automation. Data ketiga, merupakan skor SA yang dilakukan dengan menggunakan instrumen SAGAT atau The Situation Awareness Global Assessment Technique (Endsley, 1994). Asesmen dengan teknik SAGAT dilakukan ketika penerbang mengikuti pelatihan simulator dengan prosedur menghentikan secara random saat latihan simulator kemudian penerbang menjawab beberapa pertanyaan tertulis dari SAGAT, dan kemudian mengkoreksi sesuai kunci jawaban.

Penutup

Demikian ulasan tentang faktor lingkungan, perbedaan individual dan situation awareness penerbang. Dengan memahami hakekat dari SA berikut bagaimana kaitannya dengan faktor lingkungan, faktor individual maka selanjutnya akan lebih mudah untuk membuat strategi dalam mengelola SA agar tidak memberikan dampak yang fatal. Oleh karenanya dalam pelaksanaannya diperlukan instrumen tertentu untuk mendeteksinya.

KEPUSTAKAAN

Endsley, M.R., (1988). Design and Evaluation for Situation Awareness Enhancement. In Proceeding of The Human Factors Society 32nd Annual Meeting (pp.97-101). Santa Monica, CA: Human Factors Society.

Endsley, M.R., dan Bolstad, C.R., (1994). Individual Differences in Pilot Situation Awareness. The International Journal of Aviation Psychology, 4(3), 241–264. Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum Associates, Inc.

Endsley, M.R., (1995). Toward a Theory of Situation Awareness In Dynamic Systems. Human Factors, Vol. 37(1), 32–64. Human Factors and Ergonomics Society.

Endsley, M.R., (1999). Situation Awareness In Aviation System. Dalam, Garland, D.J., dan Hopkin, V.D., (Eds). Handbook of Aviation Human Factors. Mahwah, NJ: Lawrence Eribaum Associates.

Endsley, M.R., (2000). Theoretical Underpinnings of Situation Awareness: A Critical Review. Dalam, Endsley, M.R., dan Garland, D.J. (Eds). Situation Awareness Analysis and Measurenment. Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum Associates, Inc.

ESSAI, (2000). Orientation on Situation Awareness and Crisis Management. European Community ESSAI Project. ESSAI (Enhanced Safety through Situation Awareness Integration in training) Consortium.

Huelmann, G., & Oubaid, V., (2004). Computer Assisted Testing (CAT) in Aviation Psychology. Dalam, Goeters, K.M. (Ed), Aviation Psychology : A Practice and Reasearch. Vermont : Ashgate Publishing Co.

Janis, I.L., (1982). Decision Making Under Stress. Dalam, Goldberger, L. & Breznitz, S. Handbook of Stress, Theoretical and Clinical Aspects. New York : Macmillan Publishing Co., Inc.

Kaempf, G.L., & Klein, G., (1992). Aeronautical Decision Making : The Next Generation. Dalam, Johnston, N., McDonald, N., & Fuller, R., Aviation Psychology in Practice. Vermont : Ashgate Publishing Company.

Orasanu, J.M., (1992). Shared Problem Models and Flight Crew Performance. Dalam, Johnston, N., McDonald, N., dan, Fuller, R. (Eds). Aviation Psychology in Practice. Vermont : Ashgate Publishing Company.

Sarter, N.B., dan Woods, D.D., (1991). Situation Awareness: A Critical But Ill-Defined Phenomenon. The International Journal of Aviation Psychology, 1(1), 45-57. Lawrence Erlbaum Associates, Inc.

Sri Lanawati (2005). Pengaruh Inteligensi, Kreativitas, Kecerdasan Emosi dan Kepribadian Terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa. Disertasi (tidak diterbitkan). Depok: Universitas Indonesia.

Young Woo Sohn, (2004). Memory Processes of Flight Situation Awareness: Interactive Roles of Working Memory Capacity, Long Term Working Memory, and Expertise. Human Factors, Vo. 46, No. 3, 461-475. Human Factors and Ergonomics Society.

Kamis, 08 Januari 2009

Psikologi Penerbangan dalam Perspektif Human Factors

Oleh : Widura IM.


Pendahuluan

Psikologi yang diaplikasikan dalam penerbangan merupakan suatu bidang tersendiri yang menuntut pemahaman topik-topik psikologi dan perilaku pada umumnya, seperti ; persepsi dan perhatian, berfikir, psikofisiologis, industri/ organisasi, psikologi sosial, pendidikan dan klinis. Seperti dikemukakan oleh Roscoe (1980), psikologi penerbangan adalah ilmu pengetahuan tentang perilaku manusia dalam operasi sistem penerbangan. Sejalan dengan batasan tersebut, peran psikologi dalam sistem penerbangan berhubungan dengan bagaimana konsep-konsep dan teori-teori psikologi yang dapat mendukung, dan menambah informasi mengenai bagaimana tingkah laku dalam operasi penerbangan itu terjadi atau mungkin dilakukan (Donald dan Johnston, 1994). Tentunya, dalam mempelajari psikologi penerbangan, orang perlu mengetahui bidang penerbangan itu sendiri, seperti ; tugas-tugas penerbang, dari daya ingat sampai pengambilan keputusan penerbang, seleksi penerbang, cockpit designs, interaksi manusia komputer, training systems development, program manajemen dan human performance research.

Mengamati perilaku manusia khususnya penerbang dalam kegiatan operasional penerbangan, penerbang dapat dipandang sebagai suatu sistem di dalam sistem (Sells & Berry, 1961). Sebagai penerbang, yang bersangkutan meru-pakan mata rantai atau komponen yang penting dalam sistem kontrol pesawat terbang, tetapi sebagai manusia juga dapat dilihat sebagai sistem yang independen. Dengan kata lain, seorang penerbang dapat dilihat sebagai salah satu komponen instrumen dalam sistem kegiatan operasional penerbangan yang tak terlepas dari sistem organisasi yang menyelenggarakan operasi penerbangan itu sendiri, dan sebagai organisme manusia dengan sistem psikofisiknya.
Dalam mengulas topik psikologi dalam konteks yang luas seperti di lingkungan penerbangan, studi psikologi penerbangan masuk dalam lingkup kajian human factors. Terutama hal ini dianggap penting dalam menelaah keselamatan penerbangan, termasuk upaya pencegahan kecelakaan sampai dengan penyelidikan kecelakaan penerbangan. Khususnya dalam tulisan disini akan diungkap aspek-aspek psikologi penerbangan dalam perspektif human factors yang mencoba menelaah upaya-upaya pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya incident dan accident dalam konteks keselamatan penerbangan.

Manusia Dalam Sistem Operasi Penerbangan

Organisasi kerja awak pesawat, terutama penerbang sangat erat kaitannya dengan sistem kerja mesin, sehingga mereka dalam menjalankan tugasnya sering dianalogikan sebagai suatu mata rantai sistem operasional mesin yang “identik” dengan sub-sistem mesin. Sebagai sub-sistem mereka harus dapat bekerja layaknya mesin yang efisien, efektif, dan terpelihara kualifikasinya. Kondisi ini tentunya memberikan konsekuensi pada keseluruhan sistem organisasi kerja yang dipersyaratkan bagi penerbang. Penerbang dituntut ability atau kemampuan untuk menangani tugas-tugasnya. Ada kualifikasi profesi yang dipersyaratkan bagi individu yang melaksanakan tugas penerbangan, dan kualifikasi ini hanya dapat diperoleh melalui seleksi yang ketat, pendidikan serta latihan terprogram yang membutuhkan waktu relatif lama, dilakukan dengan intensif, juga pengalaman tugas yang kadang membutuhkan waktu cukup panjang selama masa penerapan profesinya.

Salah satu tuntutan atau persyaratan disamping tuntutan kemampuan dan keterampilan, sangat ditekankan penguasaan prosedur kerja baku atau SOP (Standard Operation Procedure) yang terinci sesuai jenis pesawat yang diawaki. Untuk itu dalam melaksanakan tugasnya, walaupun mereka diyakini sudah menguasai prosedur yang harus dijalankan, mereka tetap dilengkapi checklist prosedur tindakan yang harus diikuti dengan penuh disiplin. Bahkan penguasaan terhadap prosedur ini harus diuji secara periodik oleh pihak otoritas agar tetap memenuhi kualifikasi yang dipersyaratkan. Tidak dapat dielakkan bahwa untuk mengoperasikan pesawat terbang dengan segala peralatan dan sistem pendukungnya, dibutuhkan individu yang memiliki keterampilan tinggi disamping kemampuan dan kemauannya dalam mematuhi prosedur kerja dengan penuh disiplin.

Agar individu atau manusia yang bergerak dalam sistem penerbangan dapat berfungsi layaknya subsistem mesin dengan berbagai tuntutan seperti telah diuraikan di atas, maka tak dapat dielakan bahwa hal ini menuntut sistem organisasi dan sistem manajemen yang sesuai, serta dapat bekerja optimal untuk memfasilitasi berjalannya fungsi-fungsi sub-sistem di dalamnya. Kelemahan dan kegagalan dari salah satu sub-sistem dipercaya dapat berdampak buruk pada berfungsinya sistem secara keseluruhn mengingat manusia secara teoritik merupakan sub-sistem yang paling sensisitif terhadap pengaruh yang dapat berdampak pada kegagalan performance. Bila kegagalan tersebut terjadi pada penerbang (sebagai salah satu sub-sistem) maka tentunya incident atau kecelakaan penerbangan tidak dapat dihindari.

Aktivitas Psikologi dalam Perspektif Human Factors

Pemahaman tentang kapabilitas dan keterbatasan (limitasi) manusia serta aplikasi pemahaman ini adalah perhatian utama dari human factors. Dan studi tentang human factors sejak setengah abad ini sudah berkembang ke aspek-aspek kognitif dari tugas-tugas penerbang. Kecenderungan ini terus berlanjut memasuki area studi yang lebih luas, antara lain ; upaya-upaya mengoptimalkan peran manusia di lingkungan kerja kompleks yang melibatkan semua aspek dari performance dan perilaku manusia, seperti ; pengambilan keputusan dan proses-proses kognitif lainnya, design display dan control serta layout kabin, perangkat lunak komunikasi dan komputer, charts dan map-map, dokumen-dokumen manual operasi, checklist, dsb. Termasuk juga pengetahuan yang menyangkut seleksi personel, pelatihan, monitoring, dan penyelidikan kecelakaan.

Human factors sebagai ilmu pengetahuan pada dasarnya merupakan pengetahuan multidisplin. Sebagai contoh, pengetahuan tentang informasi dijelaskan oleh psikologi untuk memahami bagaimana manusia memproses informasi sampai ia membuat keputusan. Dari psikologi dan fisiologi, dipahami proses sensori dalam arti mendeteksi dan mengirimkan (transimiting) informasi. Sedangkan antropometri dan biomekanika berupaya menjelaskan gerakan dan tindakan tubuh sehingga dapat dioptimalkan rancangan desain serta layout kendali yang sesuai dan tepat. Dan tak kurang pentingnya adalah pemahaman tentang dasar-dasar statistik dalam rangka menganalisis data yang diperoleh melalui survey berbagai kejadian dan kegiatan di lingkungan penerbangan.

Seperti diketahui, manusia sebagai komponen sistem atau sub-sistem adalah yang paling fleksibel, adaptable dan valuable dari sistem penerbangan, tapi juga yg paling sensitif terhadap pengaruh yang dapat berdampak pada performance. Setidaknya berbagai publikasi tentang topik keselamatan penerbangan menunjukan 3 dari 4 kecelakaan penerbangan dalam satu periode disebabkan kurang optimalnya performance manusia, dan seringkali hal ini diistilahkan dengan ”pilot error”. Sebenarnya penggunaan istilah ”pilot error” tidak membantu dari segi usaha pencegahan kecelakaan penerbangan. Istilah ini sering kontraproduktif karena, walaupun ”pilot error” dapat memberi indikasi ”dimana” terjadinya kelemahan (breakdown) di dalam sistem, namun tidak dapat menjadi petunjuk ”mengapa” kecelakaan itu terjadi. Roscoe (1980) mengungkapkan bila membatasi tanggung jawab hanya pada penerbang saja berarti membebaskan orang lain atau faktor lain yang mungkin terlibat. Karena, suatu kesalahan (error) dalam sistem penerbangan mungkin atau dapat saja disebabkan antara lain ; oleh kesalahan design atau karena pelatihannya yang tidak adekuat, karena rancangan prosedur atau konsep layout checklist dan manual yang buruk, dan/atau kegagalan manajemen. Sehingga penggunaan istilah ”pilot error” cenderung akan membuat fakta-fakta pendukung terjadinya kecelakaan tetap tersembunyi yang sebenarnya bila dikenali lebih awal dapat mencegah terjadinya kecelakaan.

Jadi human factors esensinya menekankan perhatiannya pada pemecahan masalah praktis dari dunia nyata. Human factors pada hakekatnya adalah pengetahuan praktis yang berorientasi pada solusi masalah dibandingkan orientasi pada disiplin ilmu bersifat teoritik yang ketat. Human factors adalah aktivitas tentang manusia dalam kehidupan maupun situasi kerja, tentang hubungan manusia dengan mesin, tentang hubungannya dengan prosedur dan lingkungannya serta aturan-aturan, dan tentang hubungan manusia dengan manusia lainnya. Dalam hal ini human factors merupakan pengetahuan terapan bersifat praktis dari teori-teori psikologi yang menekankan pada optimasi hubungan antar manusia beserta aktivitasnya, dengan aplikasi sistematikanya, yang terintegrasi dalam kerangka kerja ”system engineering”. Sasarannya adalah efektivitas sistem, termasuk keselamatan dan efisiensi, serta kesejahteraan (well being) individu.

Upaya Pencegahan Kecelakaan Penerbangan

Kemajuan industri penerbangan yang pesat dalam beberapa puluh tahun terakhir yang ditandai dengan meningkatnya kehandalan dan kinerja pesawat generasi baru hingga diaplikasikannya inovasi-inovasi peralatan dan prosedur-prosedur ATC (air traffic control) pada kenyataannya tidak menurunkan angka kecelakaan penerbangan yang disebabkan kesalahan manusia (human error). Menurut Chappell (1994), hampir 75% dari keseluruhan kecelakaan (accidents) maupun insiden (incidents) penerbangan disebabkan karena kegagalan manusia dalam memantau, mengelola dan mengoperasikan sistem penerbangan itu sendiri. Apa pun alasannya, kecelakaan penerbangan harus dicegah, demi keselamatan manusia itu sendiri, kesiapan operasional maupun tempur dan tentu saja untuk alasan-alasan ekonomis (efisiensi). Karena itu program zero accident di kalangan operator penerbangan baik sipil maupun militer perlu terus menerus diupayakan, antara lain dengan memanfaatkan data insiden penerbangan maupun data-data bahaya (hazard) dalam penerbangan jauh sebelum kecelakaan terjadi.

Studi terinci (Budiman Z, 1996) dari sejumlah ratusan kecelakaan penerbangan menunjukan bahwa setiap satu kali terjadi kecelakaan besar (ada korban manusia) terdapat 30 kecelakaan kecil (tidak ada korban manusia) dan 300 bahaya (hazard). Studi lainnya menunjukan hasil yang hampir sama walaupun istilah yang digunakan berbeda, yaitu ; hazard, incident & accident, atau hazard, minor dan mayor incident. Hubungan antara hazard, incident dan accident juga penting dalam penelitian tentang permasalahan human factors. Bagaimana hubungan antara ketiga kejadian tersebut dapat dilihat pada gambar 1 di bawah ini.
ACCIDENT
INCIDENT
HAZARDS
INVESTIGATION PROCESS
PREVENTION MEASURES







Gambar 1. Hubungan Hazard, Incident dan Accident.

Hubungan antara hazard, incident dan accident dapat dijelaskan sebagai berikut. Misalnya, seorang penerbang transport yang melaksanakan penerbangan jarak jauh, suatu ketika membuat kesalahan dalam approach dan membaca peta. Apabila penerbang atau awak pesawatnya menyadari situasi tersebut dan melakukan koreksi sebelum problem berikutnya muncul, kejadian ini dapat dikategorikan sebagai manifestasi dari adanya bahaya (hazards). Hal ini mungkin disebabkan penerangan yang lemah di dalam cockpit, atau lay out peta yang buruk, atau lelah karena penerbangan yang lama. Tetapi apabila kejadian tersebut tidak disadari sampai kebetulan muncul pesawat lain dengan tujuan sama, sehingga penerbang terpaksa mengadakan gerakan mendadak untuk menghindari kecelakaan, maka kejadian ini dapat dikategorikan sebagai insiden/incident. Sedangkan apabila sampai terjadi tabrakan, maka kejadian tersebut diklasifikasikan sebagai kecelakaan/accident. Sebenarnya terjadinya hazards dan insiden telah diatur atau “dipersyaratkan” untuk segera dilaporkan. Namun pada sebagian besar awak pesawat termasuk penerbang tidak pernah melaporkannya, terutama bila pada saat itu tidak ada kerusakan atau tidak ada penumpang yang mengetahuinya. Padahal, apabila peraturan fundamental yang menekankan pada kewajiban “mendokumentasikan” hazard dan insiden, serta ”memahami” bahwa hazard dan insiden pada hakekatnya harus diperlakukan sama dengan kecelakaan (accident), maka kecelakaan dapat dicegah lebih dini dan keselamatan penerbangan dapat ditegakan secara optimal.

Model Pendekatan Reason dalam Penyelidikan Kecelakaan Penerbangan

Bila pada uraian di atas mencoba mengungkapkan bagaimana upaya yang selayaknya dilakukan dalam rangka pencegahan kecelakaan penerbangan, maka selanjutnya akan diulas pendekatan dalam penyelidikan sebab-sebab kecelakaan penerbangan secara menyeluruh dan terintegrasi dengan memposisikan operasi penerbangan kerjsebagai kerja suatu sistem. Adalah Jim Reason, seorang peneliti human factors pada akhir 1980-an memunculkan gagasan mengenai human error yang pengaruhnya sangat diperhitungkan dalam memahami keselamatan penerbangan atau aviation safety. Model pendekatan Reason tidak hanya melibatkan pendekatan sistemik dalam menganalisis suatu kecelakaan, tapi juga bermanfaat untuk menganalisis kecelakaan pada berbagai moda transportasi termasuk insiden dan kecelakaan penerbangan, kapal laut dan kereta api, kebakaran, dsb.

Model dari Reason ini dapat dikatakan merupakan kelanjutan dari bentuk pendekatan human factors sebelumnya, yaitu ; dari kinerja penerbang secara individual ke arah kinerja tim (crew performance), kemudian menuju kinerja organisasi (organizational performance), walaupun fokus perhatian dalam dimensi-dimensi itu tetaplah pada individunya. Reason didukung ahli-ahli dari ICAO memperkenalkan paradigma sentral dari pendekatan sistem terhadap safety yang membedakan antara active failures (kegagalan aktif) dan latent failures (kegagalan laten).
Active failures berkaitan dengan kesalahan operator, dalam hal ini penerbang atau petugas ATC. Sedangkan latent failures merupakan kondisi yang mempengaruhi bagaimana kinerja operator saat melaksanakan tugasnya, atau bagaimana pengaruh kemampuan sistem untuk mengatasi perilaku atau situasi yang tidak diharapkan. Latent failures ini dapat mencakup kegagalan komponen, seperti kegagalan struktur dari sistem atau tidak berfungsinya sistem, dan kegagalan ini dapat muncul jauh sebelum terjadinya kecelakaan. Model Reason yang disederhankan dapat dilihat pada gambar 2.

Defences

Organisational Local Unsafe Accidents
Deficiencies Factors Acts



Gambar 2. Skema sederhana dari Model Reason (dikutip dari Hobbs, 1998).


Latent failures yang berhubungan dengan lingkungan yang terkait langsung dimana active failures terjadi dikenal sebagai local factors. Dalam kategori ini faktor-faktornya antara lain ; moril di tempat kerja, kelelahan (fatigue) operator, dan/atau masalah prosedur kerja. Latent failures yang berhubungan dengan organisasi atau sistem penerbangan terkait dengan kelemahan-kelemahan organisasional atau sering juga disebut kelemahan faktor sistemik. Dalam suatu kecelakaan atau kegagalan sistem, biasanya local factors akan menyebabkan operator (penerbang) bertindak tidak aman (unsafe act). Tindakan ini selanjutnya akan memberikan konsekuensi buruk yaitu kecelakaan bila tidak dapat diidentifikasi atau dikontrol oleh defences atau safety net (jaringan keselamatan). Local factors dan defences atau safety net yang tidak adekuat dapat disebabkan oleh isu-isu sistemik yang lebih luas, seperti komunikasi antar sub-sistem yang buruk (tidak ada koordinasi) atau prosedur-prosedur yang tidak adekuat.

Dari model Reason ini, dapat dipelajari bahwa sebab-sebab kecelakaan dapat ditelusuri jauh sebelum kejadian, dan umumnya terjadi karena interaksi dari kelemahan-kelamahan sistem dan buruknya sistem deteksi serta kontrol. Sebenarnya, kelemahan-kelemahan tersebut masih dapat dikendalikan atau dihambat bila defences atu safety net berfungsi optimal, namun seringkali buruknya komunikasi antar sub-sistem (departemen dalam struktur organisasi) atau tidak adekuatnya prosedur membuat sub-sistem pelindung terakhir tidak mampu menghambat terjadinya kecelakaan.

Kesimpulan
Dari uraian di atas tentang psikologi penerbangan dalam perspektif human factors dalam mengupayakan keselamatan penerbangan, dapat disimpulkan beberapa pemikiran, yaitu ;

a. Dalam upaya mendukung keselamatan penerbangan termasuk memantau, mengendalikan, dan menyelidiki sebab-sebab terjadinya insiden dan kecelakaan, diperlukan pemahaman bahwa lingkungan operasional penerbangan harus dilihat sebagai suatu sistem.
b. Faktor manusia marupakan elemen atau sub-sistem yang fleksibel dan adaptable, tetapi juga sekaligus paling sensitif terhadap pengaruh dari sub-sistem lain terhadap kegagalan performance.
c. Human factors merupakan studi multidisiplin berbagai ilmu pengetahuan dimana teori-teori psikologi terutama psikologi penerbangan dimanfaatkan secara luas sejak dipelajarinya aspek-aspek proses informasi, pengambilan keputusan sampai dengan psikologi organisasi.
d. Pencegahan kecelakaan penerbangan harus terus menerus diupyakan karena sebelum suatu kecelakaan penerbangan terjadi, diasumsikan secara teoritis akan mengikuti siklus terjadinya hazards, incident dan kemudian accident. Sehingga sistem pemantauan, deteksi, dan dokumentasi merupakan kewajiban operator dan awak pesawat untuk melaporkannya.
e. Pada dasarnya terjadinya kecelakaan penerbangan dapat dideteksi jauh sebelum kejadian dengan memperhatikan berbagai kelemahan bersifat laten maupun aktif, bersifat organisasional dan lokal dalam kerangka sistemik.


Kepustakaan


Bond, N.A., Bryan, G.L., (1962). Aviation Psychology. L.A. : Aviation and Missile Safety Division.
Budiman Z., (1996). Aspek Human Factors Pada Kecelakan Pesawat. Bandung : Lembaga Psikologi TNI AU.

Cassie, A., Foklema, S.D., Parry, J.B., (Ed’s). (1964). Aviation Psychology : Studies on Accident Liability, Proficiency Criteria and Personnel Selection. Paris : Mouton & Co.

Dhenin, S.G., Sharp, G.R., dan Ernsting, J., (1978). Aviation Medicine, Physiology and Human Factors. London : Tri-Med Books Ltd.

ICAO, (1989). Human Factors Digest No 1 – Fundamental Human Factors Concepts. ICAO Circular 216-AN/131. Montreal : Secretary General of International Civil Aviation Organization.

Orasanu, J.M., (1994). Shared Problem Models and Flight Performance. Dalam, Johnston, N., McDonald, N., dan Fuller, R.,(Eds). Aviation Psychology in Practice. Aldershot : Avebury Technical Ashgate Publ. Ltd.

Peter G. Harle. 1994. Investigation of human factors: The link to accident prevention, in Neil Johnston, Nick McDonald and Ray Fuller (ed.), Aviation Psychology in Practice, Avebury Technical, England,

Sells, S.B., Berry, C.A., (1961). Human Factors in Jet and Space Travel. New York : The Roland Press Co.

Sukmo Gunardi. 2002. Konsepsi Pembuatan Sistem Pelaporan Insiden Sukarela Dalam Rangka Mendukung Program ”Zero Accident” Industri Penerbangan Nasional Pada 10 Tahun Mendatang, Kertas Karya Perorangan ”Sastrajaya” Sekolah Staf dan Komando TNI AU (SESKOAU) Angkatan XXXVIII, TP. 2001-2002, Lembang, Bandung.

Sukmo G., (2004). Psikologi Penerbangan Dalam Perspektif Human Factors. Makalah pada Semiloka Psikologi Penerbangan di Dinas Psikologi TNI AU, tanggal 24-26 Agustus 2004. Jakarta : Dispsiau.

Widura IM., (2005). Psikologi Dalam Mendukung Operasi Penerbangan. Makalah pada Seminar Psikologi Militer di Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Yani, Cimahi. Jakarta : Dispsiau.